Di Samarinda juga mempunyai sastrawan sendiri yaitu bapak Korrie Layun Rampan. Korrie Layun rampang juga menulis cerpen,puisi,cerita anak,resensi buku,karya jurnalistik dan novel dan berjudul antara lain:

-Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985)

-Manusia Langit (1997)

Dan masih banyak lagi.

Sumber:wikipedia

Back to basic

Posted: 24 Oktober 2010 in Uncategorized

Sastra terdiri dari 2 jenis yaitu: Sastra fiksi dan sastra nonfiksi

Sastra fiksi yang artinya sastra yang bersifat fantasi atau tidak nyata.

Sastra Fiksi terdiri dari:

-Prosa (Roman,Novel dan cerpen)

-Puisi

Roman merupakan suatu cerita fiktif yang mengisahkan kehidupan pelakunya dari kecil sampai meninggal dunia. (Siti Nurbaya dan Salah Asuhan)

Novel sebenarnya tidak jauh berbeda dengan karya roman. Novel adalah prosa fiksi yang menceritakan kejadian yang luar biasa pada pelakunya hingga terjadi konflik yang menimbulkan perubahan nasib. (Pagar Kawat Berduri, dan Tanah Gersang)

Cerpen berbeda dengan roman dan novel,cerpen hanya menceritakan peristiwa sesaat yang dianggap pentin dan menarik. (Pada Malam Midodareni)

 

Sastra Nonfiksi adalah sastra yang bersifat nyata.

Sastra Non fiksi terdiri dari:

-Essay

-Resensi

-Karya ilmiah

-Karya tulis

-Skripsi dan lain-lain

Bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat diartikan bahasa baku bagi anak-anak zaman sekarang karena menurut mereka bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan bahasa yang kuno atau jadul. Bahasa yang sering di pakai anak-anak zaman sekarang adalah bahasa moderen atau di kenal dengan istilah bahasa gaul dikarenakan bahasanya sangat mudah di pahami atau di mengerti atau bisa juga bahasanya mengikuti arus moderen.

contoh bahasa moderen yang sering di gunakan anak zaman sekarang:

Contohnya: ” q g mw ikud jland..cz puanas pah”

Dan ada lagi beberapa versi bahasa moderen seperti bahasa alay atau lebai. Hingga saat ini banyak yang menggunakan bahasa tersebut.

Menurut pepatah: Bahasa mencerminkan suatu bangsa

Yang artinya:kualitas suatu bangsa bisa dilihat dari kualitas bahasanya atau berbicaranya.

oleh sebab itu di dunia Internasional sastra  sangat di hargai. Jika kita sebagai penerus bangsa seperti ini maka tidak akan ada lagi penerus yang bisa di bilang sastrawan muda. Seperti zaman dahulu.

Pada zaman dahulu bangsa Indonesia sempat masuk nominasi penghargaan nobel untu kategori sastra. Salah satunya Pramoedya Ananta Toer

selain penghargaan nobel,banyak negara-negara besar yang membuat penghargaan untuk karya-karya sastra.

menurut budi bahasa orang dapat di lihat dari cara berbicaranya

Di zaman sekarang ini banyak orang yang tidak mengerti bahasa yang baik dan benar karena terpengaruh lingkungan sekitarnya.

Sastrawan Angkatan Reformasi

Posted: 3 Oktober 2010 in Uncategorized

Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.

Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra — puisi, cerpen, dan novel — pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi

* Widji Thukul
Puisi Pelo
Darman

Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya

* Pramoedya Ananta Toer

Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)

Bukan Pasar Malam (1951)

Di Tepi Kali Bekasi (1951)

Keluarga Gerilya (1951)

Mereka yang Dilumpuhkan (1951)

Perburuan (1950)

Cerita dari Blora (1952)

Gadis Pantai (1965)

* Nh. Dini

Dua Dunia (1950)

Hati jang Damai (1960)

* Sitor Situmorang

Dalam Sadjak (1950)

Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)

Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)

Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)

Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)

* Mochtar Lubis

Tak Ada Esok (1950)

Jalan Tak Ada Ujung (1952)

Tanah Gersang (1964)

Si Djamal (1964)

* Marius Ramis Dayoh

Putra Budiman (1951)

Pahlawan Minahasa (1957)

* Ajip Rosidi

Tahun-tahun Kematian (1955)

Ditengah Keluarga (1956)

Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)

Cari Muatan (1959)

Pertemuan Kembali (1961)

* Ali Akbar Navis

Robohnya Surau Kami – 8 cerita pendek pilihan (1955)

Bianglala – kumpulan cerita pendek (1963)

Hujan Panas (1964)

Kemarau (1967)

* Toto Sudarto Bachtiar

Etsa sajak-sajak (1956)

Suara – kumpulan sajak 1950-1955 (1958)

* Ramadhan K.H

Priangan si Jelita (1956)

* W.S. Rendra

Balada Orang-orang Tercinta (1957)

Empat Kumpulan Sajak (1961)

Ia Sudah Bertualang (1963)

* Subagio Sastrowardojo

Simphoni (1957)

* Nugroho Notosusanto

Hujan Kepagian (1958)

Rasa Sajangé (1961)

Tiga Kota (1959)

* Trisnojuwono

Angin Laut (1958)

Dimedan Perang (1962)

Laki-laki dan Mesiu (1951)

* Toha Mochtar

Pulang (1958)

Gugurnya Komandan Gerilya (1962)

Daerah Tak Bertuan (1963)

* Purnawan Tjondronagaro

Mendarat Kembali (1962)

* Bokor Hutasuhut

Datang Malam (1963)

Angkatan ’45 lahir pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Angkatan ini lahir di tengah-tengah kancah revolusi. Banyak sekali nama lain yang diberikan sebelum pemakaian nama Angkatan ’45. Nama-nama tersebut adalah:

-Angkatan Muda

-Angkatan Jepang

-Angkatan Pembebasan

-Angkatan Chairil Anwar

-Angkatan Moderen

-Angkatan Gelanggang

-Angkatan Perang

-Ankatan Sesudah Perang

Ciri-ciri Angkatan ’45:

A. Humanisme yang artinya sastrawan masa itu tidak membeda-bedakan suku dan bangsa.

B. Universal yang artinya berkiblat kepada sastrawan di seliruh dunia yang di pandang baik.

C. Menggunakan bahasa sehari-hari

D. Revolusioner yang artinya Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945

E. Heroik artinya,banyak sekali karya sastra yang menggambarkan jiwa kepahlawanan dan ingin bebas dari penjajahan.

Tokoh-tokoh atau pelopor angkatan ’45:

* Chairil Anwar
Kerikil Tajam (1949)
Deru Campur Debu (1949)

* Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
Tiga Menguak Takdir (1950)

* Idrus
Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
Aki (1949)
Perempuan dan Kebangsaan

* Achdiat K. Mihardja
Atheis (1949)

* Trisno Sumardjo
Katahati dan Perbuatan (1952)

* Utuy Tatang Sontani
Suling (drama) (1948)
Tambera (1949)
Awal dan Mira – drama satu babak (1962)

* Suman Hs.
Kasih Ta’ Terlarai (1961)
Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
Pertjobaan Setia (1940)

Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Berikut ini saya lampirkan beberpa karya sastra hikayat dan syair.

Hikayat:

-Hikayat Masydulhak                                                                                                                    -Hikayat Pandawa Jaya                                                                                                         -Hikayat Putri Djohar Manikam
-Hikayat Sri Rama
-Hikayat Tjendera Hasan
-Tsahibul Hika

Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan Puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini. Roman merupakan suatu cerita fiktif yang mengisahkan kehidupan orang dari masa kecil hingga meninggal dunia. Unsur-unsurnya di mulai dari eksposisi,komplikasi,klimaks,antiklimaks,dan konklusi. Novel sebenarnya tidak jauh berbeda dengan roman, novel itu prosa fiktif yang menceritakan kejadian yang luar biasa pada pelakunya sehingga terjadi konflik dan pada akhirnya ada perubahan nasib. Sedangkan cerpen hanya menceritakan peristiwa atau kejadian sesaat yang di anggap penting. Berikut ini saya lampirkan penulis dan karya sastra angkatan 1920.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:

* Merari Siregar

* Azab dan Sengsara (1920)
* Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
* Cinta dan Hawa Nafsu

* Marah Roesli

* Siti Nurbaya (1922)
* La Hami (1924)
* Anak dan Kemenakan (1956)

* Muhammad Yamin

* Tanah Air (1922)
* Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
* Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
* Ken Arok dan Ken Dedes (1934)

* Nur Sutan Iskandar

* Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
* Cinta yang Membawa Maut (1926)
* Salah Pilih (1928)
* Karena Mentua (1932)
* Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
* Hulubalang Raja (1934)
* Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

* Tulis Sutan Sati

* Tak Disangka (1923)
* Sengsara Membawa Nikmat (1928)
* Tak Membalas Guna (1932)
* Memutuskan Pertalian (1932)

* Djamaluddin Adinegoro

* Darah Muda (1927)
* Asmara Jaya (1928)

* Abas Soetan Pamoentjak

* Pertemuan (1927)

* Abdul Muis

* Salah Asuhan (1928)
* Pertemuan Djodoh (1933)

* Aman Datuk Madjoindo

* Menebus Dosa (1932)
* Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
* Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru

* Sutan Takdir Alisjahbana
Dian Tak Kunjung Padam (1932)
Tebaran Mega – kumpulan sajak (1935)
Layar Terkembang (1936)
Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)

* Hamka
Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
Tuan Direktur (1950)
Didalam Lembah Kehidoepan (1940)

* Armijn Pane
Belenggu (1940)
Jiwa Berjiwa
Gamelan Djiwa – kumpulan sajak (1960)
Djinak-djinak Merpati – sandiwara (1950)
Kisah Antara Manusia – kumpulan cerpen (1953)

* Sanusi Pane
Pancaran Cinta (1926)
Puspa Mega (1927)
Madah Kelana (1931)
Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
Kertajaya (1932)

* Tengku Amir Hamzah
Nyanyi Sunyi (1937)
Begawat Gita (1933)
Setanggi Timur (1939)

* Roestam Effendi
Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
Pertjikan Permenungan

* Sariamin Ismail
Kalau Tak Untung (1933)
Pengaruh Keadaan (1937)

* Anak Agung Pandji Tisna
Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
Sukreni Gadis Bali (1936)
I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)

* J.E.Tatengkeng
Rindoe Dendam (1934)

* Fatimah Hasan Delais
Kehilangan Mestika (1935)

* Said Daeng Muntu
Pembalasan
Karena Kerendahan Boedi (1941)

* Karim Halim
Palawija (1944)

Sastra Lama Sastra lama adalah sastra yang berbentu lisan atau sastra melayu yang tercipta dari suatu ujaran atau ucapan. Sastra lama masuk ke indonesia bersamaan dengan masuknya agama islam pada abad ke-13. Peninggalan sastra lama terlihat pada dua bait syair pada batu nisan seorang muslim di Minye Tujuh, Aceh. Ciri dari sastra lama yaitu :

– Anonim atau tidak ada nama pengarangnya

– Istanasentris (terikat pada kehidupan istana kerajaan)

– Tema karangan bersifat fantastis

– Karangan berbentuk tradisional

– Proses perkembangannya statis

– bahasa klise Contoh sastra lama : fabel, sage, mantra, gurindam, pantun, syair, dan lain-lain.

Sastra Baru Sastra baru adalah karya sastra yang telah dipengaruhi oleh karya sastra asing sehingga sudah tidak asli lagi. Ciri dari sastra baru yakni :

– Pengarang dikenal oleh masyarakat luas

– Bahasanya tidak klise

– Proses perkembangan dinamis

– tema karangan bersifat rasional

– bersifat modern / tidak tradisional

– masyarakat sentris (berkutat pada masalah kemasyarakatan) Contoh sastra baru : novel, biografi, cerpen, drama, soneta, dan lain sebagainya.

angkatan 1920-an atau disebut juga angkatan Balai Pustaka; angkatan 1933, yang disebut juga angkatan Pujangga Baru; angkatan 1945 yang disebut angkatan Pendobrak, dan angakatn 1966 atau disebut juga angkatan Orde Lama. .
Angkatan 1920-an identik dengan novel Marah Rusli berjudul Siti Nurbaya;
perkembangan sastra Indonesia berbanding lurus dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan formal, dimulai tahun 1900-an, yaitu ketika penjajah Belanda membolehkan bangsa boemi poetra (sebutan untuk orang Indonesia oleh Belanda) memasuki pendidikan formal. Tentu saja pendidikan formal saat itu adalah milik penjajah Belanda.

Karena genre sastra terdiri dari tiga bentuk (yaitu puisi, prosa, dan drama), maka ada baiknya kita menganalisis perkembangan genre sastra ini dari tiga bentuk itu. Dengan demikian, dalam pembelajaran ini Anda akan menganalisis perkembangan puisi, prosa, dan drama dalam lingkup sastra Indonesia.

Aliran dalam sastra Indonesia

-Aliran Impresionisme: berdasarkan impresi atau kesan sepintas suatu objek yang di amati pengarang.

-Aliran Relisme: berdasarkan kenyataan yang terjadi di dalam kehidupan.

-Aliran Naturalisme: pengarang melukiskan kehidupan masyarakat yang jelek dan bobrok.

-Aliran Neonaturalisme: melukiskan kehidupan secara objektif baik segi positif dan negatif.

 

Aliran Ekspreonisme  menonjolkan ke-aku-an

-Aliran romantik       : aliran yang mengutamakan aspek perasaan dan                     angan-angan  pengarang.

-Aliran Idealisme: aliran yang berpegang dan mengutamakan ide atau cita-cita pengarang.

-Aliran Psikologisme: aliran yang mengutamakan gerak-gerik kejiwaan manusia dalam kehidupan yang di gambarkan.

-Aliran Mistisme: aliran yang melukiskan pengalaman pengarang yang bersifat keTuhanan,atau yang bersifat mistik atau gaib.

-Aliran Surialisme: aliran yang berusaha melukiskan kenyataan hidup secara berlebihan.

-Aliran Simbolisme: aliran yang melukiskan kenyataan hidup secara tidak terus terang.

pengertian sastra

Posted: 1 Oktober 2010 in Uncategorized

Sastra menurut Ensiklopedi Dunia

Sastra (Sansekerta शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata “sastra” bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak.

Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa.

Jadi, yang termasuk kedalam kategori Sastra adalah :

Novel

Cerita / Cerpen (tertulis / lisan)

Syair

Pantun

Sandiwara / Drama

 

Sastra menurut Ensiklopedi Indonesia tahun 1984 jilid 5

Sastra merupakan bentuk seni yang dilahirkan dalam dan dengan bahasa. Perkataan itu berasal dari sastra yang sebenarnya meliputi segala macam pengetahuan yang tertulis.

Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:

-Lisan dan

-Tulisan